Monday, March 9, 2015

kisah istri shalehah

Dikisahkan suatu ketika Abu Ishaq Al Huwaini mengunjungi salah seorang sahabatnya dan ia mendapati sahabatnya itu sedang menangis. Ketika ditanya mengapa dia menangis, sahabatnya itu justru menangis semakin hebat.

Kemudian sahabatnya berkata: “WahaiAbu ishaq , istriku sedang sakit dan beberapa hari ini saya merawatnya”.

Abu Ishaq sangat heran dengan tangisan sahabatnya yang hebat itu, padahal ia seorang yang sholih. Ketika tangisnya sudah mulai reda, sahabatnya pun kembali berkata:

“Wahai Abu ishaq , apakah Engkau heran dengan tangisanku yang seperti ini? Semua ini karena istriku. Seandainya engkau mengenal istriku, sebagaimana aku mengenalnya maka engkau akan memaklumi sikapku ini dan tidak akan mencelaku."

"Wahai Abu ishaq , aku adalah orang yang miskin dan pekerjaanku rendah. Penghasilanku hampir tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupku. Akan tetapi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah membukakan hati seseorang untuk menikahkan putrinya denganku. Padahal bapak perempuan itu adalah seorang yang cukup berharta. Kami pun menikah dan sungguh istriku ternyata seorang wanita yang sholehah yang sangat baik. Hidup bersamanya terasa kudapatkan surga dunia dengan segala maknanya."

"Suatu hari sang mertua lelaki ku datang berkunjung dan berkata kepadaku, ‘Bertakwalah kepada Allah dan belikanlah istrimu roti, keju, ful (sejenis kacang) dan jangan terlalu sering memberinya daging dan buah-buahan karena ia sudah bosan makan daging dan buah’. Mendengar ucapan mertuaku, aku pun hanya ternganga dan tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku sungguh tidak mengerti apa yang dibicarakannya. Sebab, selama ini aku tidak mampu membelikannya daging maupun buah-buahan. Kemudian aku menemui istriku dan bertanya kepadanya. Dan sungguh aku terkejut dengan jawabannya, seakan bumi tempat aku berpijak berguncang."

"Ternyata, setiap kali istriku pergi ke rumah orang tuanya, mereka selalu menyuguhkan daging dan buah, akan tetapi istriku selalu menolaknya seraya berkata, ‘Aku tidak mau makan daging dan buah, aku sudah bosan memakannya. Sesungguhnya suamiku tidak pernah melarangku untuk memakan daging dan buah, akan tetapi ia sering sekali memberikanku makanan itu hingga aku bosan dengan daging dan buah. Aku lebih suka makan makanan ringan saja,’."

"Padahal kenyataannya di rumah kami, ia tidak pernah melihat daging kecuali dalam satu atau dua bulan sekali saja. Sehari-hari lebih banyak makan kacang ful. Aku tidak memiliki sesuatu yang dapat mengenyangkan perutku maupun perut istriku”.

Sahabatku, istri sahabat Abu ishaq tersebut melakukan hal seperti itu adalah karena ia ingin mengangkat derajat suaminya di hadapan keluarganya dan menjadikannya besar di mata mereka. Ia mampu menahan lapar, akan tetapi ia tidak ridha seorang pun mengetahui kemiskian suaminya. Ia terus bersabar dengan apa yang ada dan senantiasa mengingatkan suaminya dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala jika ia mau bersabar. Semua itu bukan karena sang suami melarangnya, akan tetapi karena ia adalah sebaik-baik wanita sholihah yang sabar.

Sahabat itu kemudian berkata kepada Abu ishaq , “Apakah engkau tahu mengapa aku menangis dan sangat khawatir atas istriku? Sesungguhnya ini hanya salah satu keistimewaannya saja. Jika aku menceritakan semua keshalihannya, maka aku tidak akan mungkin mampu menceritakannya”.

Sahabatku, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dunia ini penuh dengan keindahan dan kesenangan. Setiap orang yang beriman tentu akan suka dengan keindahan dan menginginkan kesenangan. Keindahan dan kesenangan yang tidak membawanya terlena dalam kehidupan ini tetapi ia bisa bawa ke dalam keabadian. Dan ketahuilah duhai sahabatku, keindahan dan kesenangan terbaik dalam kehidupan dunia tersebut adalah wanita yang sholihah.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabada:
“Dunia merupakan kesenangan, dan kesenangan terbaik dunia adalah wanita yang sholihah,” (Hadits Riwayat Imam Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Wallahu a'lam bish-shawab ...

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya .

Sumber: Copas dari Status Facebook: Nabil Awud HedRah

kisah anak berbakti kepada Ibunya yang Gila

Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya…

Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya…

Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut…

Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan :

“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usia ke ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit. Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…

Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.

Pemuda itu menjawab :

“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”

Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”

Ia menjawab : “Aku”

Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”

Ia menjawab : “Aku suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkan pakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”

Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”

Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”

Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..

Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”

Ia menjawab : “Alhamdulillah, aku sudah beristri dan punya beberapa anak”

Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”

Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya, dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gulanya”

Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”

Ia menjawab : “Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya”

Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…

Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.

Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”

Ia menjawab : “Aku. Dokter, ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”

Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”

Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”

Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…sekarang!”

Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihat anak-anakku gembira…”

Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.

Lalu aku bertanya lagi : “Apakah Anda punya saudara?”

Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”

Aku bertanya : “Jadi Anda dirawat ayah?”

Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”

Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda?”

Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihan dia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”

Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…

Ia memegang tangan ibunya dan berkata : “Mari kita ke kedai..”

Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja!”

Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…

Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah?”

Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”

Aku pun bertanya pada putranya : “Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”

Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”

Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda…lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah?”

Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Makkah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi umrah tanpa membawanya”.

Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.

Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…

Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…

Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…

Aku berkata dalam diriku : “Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…

Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…

Ibunya tidak pernah merawatnya…

Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…

Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…

Tidak pernah begadang malam…

Tidak pernah mengajarinya…

Tidak pernah sedih karenanya…

Tidak pernah menangis untuknya…

Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…

Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…

Tidak pernah….dan tidak pernah…!

Walaupun demikian…pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu”.

Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat….

seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental???.

Sumber : di ketik ulang dari Majalah Qiblati edisi 03 Thn. IX dalam rubrik Kisah

Copas dari status Status Nasihat

berbuat baik kepada orangtua kunci surga

Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma pernah berkata kepada seorang laki-laki, “Apakah kamu takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” Laki-laki itu menjawab, “Tentu.” Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma berkata, “Berbaktilah pada ibumu. Demi Alloh, sekiranya kamu lemah lembut dalam berbicara kepadanya dan memberinya makan, niscaya kamu benar-benar akan masuk surga, selama kamu menjauhi dosa-dosa besar.” [1]

Muhammad bin Al-Munkadir Rohimahullohpernah meletakkan pipinya di tanah, kemudian berkata kepada ibunya, “Ibuku, berdiri dan letakkanlah kaki ibu di atas pipiku.” [2]

Ibnu Al-Munkadir Rohimahulloh juga pernah berkata, “Saudaraku, ‘Umar menghabiskan malamnya dengan sholat, sedangkan aku menghabiskan malamku dengan mengelus-elus kaki ibuku, dan aku tidak ingin malamku itu diganti dengan malam saudaraku.” [3]

Dari Muhammad bin Sirin Rohimahulloh, dia berkata, “Pada masa ‘Utsman bin Affan, harga pohon kurma mencapai seribu dirham. Usamah menuju suatu pohon kurma, lalu menggigitnya dan mengeluarkan daging pohon kurma yang paling lunak, kemudian menghidangkannya untuk ibunya. Orang-orang berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu melakukan hal ini, sementara kamu tahu bahwa harga pohon kurma sampai seribu dirham?” Dia menjawab, “Karena ibuku memintanya, dan tidaklah beliau meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu, melainkan aku pasti akan memberikan itu kepadanya.”” [4]

Dari Abu Burdah, dia berkata, “Aku pernah mendengar ayahku bercerita, bahwa dia pernah melihat Ibnu ‘Umar dan seorang laki-laki dari Yaman yang sedang menggendong ibunya melakukan thowaf di Baitulloh, laki-laki itu berkata,

Sesungguhnya aku adalah untanya yang ditundukkan

Jika ia mengejutkan sanggurdinya, niscaya aku tidak akan terkejut

Kemudian dia berkata, “Wahai Ibnu ‘Umar, apakah kamu berpendapat bahwa aku telah membalas ibuku?” Ibnu ‘Umar menjawab, “Tidak, meskipun hanya sehela nafas (keletihan)nya..” Kemudian Ibnu ‘Umar berthowaf hingga sampai maqom, lalu sholat dua roka’at, kemudian berkata, “Wahai Ibnu Abu Musa, sesungguhnya setiap dua roka’at dapat menghapus dosa-dosa yang ada di depan kedua orang tua.” [5]

Dari Abu Hazim, bahwa Abu Murroh, mantan sahaya Ummu Hani’, putri Abu Tholib, telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah naik kendaraan bersama Abu HuroirohRodhiyallohu ‘anhu ke kampungnya di al-Aqiq. Tatkala dia sampai di daerahnya, maka dia berteriak kencang, “Semoga keselamatan, Rahmat Alloh dan KeberkahanNya terlimpahkan kepadamu wahai ibuku!” Kemudian ibunya menyahut, “Semoga keselamatan, Rahmat Alloh dan KeberkahanNya juga terlimpahkan kepadamu.” Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘anhuberkata kembali, “Semoga Alloh merahmatimu sebagaimana engkau telah mendidikku tatkala aku masih kecil.” Ibunya menimpali, “Demikian juga engkau wahai anakk. Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan dan meridhoimu sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku di kala aku telah tua.” [6]

Abu Bakar ‘Ayyasy berkata, “Aku pernah duduk bersama Manshur di rumahnya. Kala itu ibunya yang keras berteriak kepadanya seraya mengatakan, “Wahai Manshur, Ibnu Hubairoh menginginkanmu menjadi qodhi, kenapa kamu menolaknya?” Mendengar hardikan ibunya Manshur hanya menunduk tanpa melihat kepada ibunya.” [7]

Haiwah bin Syuroih, salah seorang imam kaum Muslimin, pernah suatu hari duduk dihalaqohnya untuk mengajarkan ilmu kepada orang-orang. Tiba-tiba ibunya berkata kepadanya, “Bangkitlah wahai Haiwah, taburkanlah gandum untuk ayam kita.” Maka dia pun bangkit dan meninggalkan taklimnya. [8]

Dari Ibnu ‘Aun, bahwa pada suatu saat ibunya memanggilnya, maka dia pun menjawab panggilan sang ibu. Ternyata suaranya melebihi suara ibunya, karena itu dia pun memerdekakan dua budak.” [9]

Pada suatu hari Ibnu Al-Hasan At-Tamimi Al-Bashri hendak membunuh seekor kalajengking. Kalajengking tersebut masuk ke dalam sarangnya. Maka dia memasukkan jari-jarinya ke lubang sarang tersebut, sehingga kalajengking itu menyengatnya. Lalu dia berkata kepada kalajengking itu, “Aku khawatir kamu keluar lalu menghampiri ibuku untuk menyengatnya.” [10]

‘Abdulloh bin Ja’far Al-Marwazi berkata, “Aku pernah mendengar Bundar mengatakan, “Suatu ketika aku hendak pergi untuk suatu perjalanan, namun ibuku melarangku, maka aku pun menaatinya (untuk tidak pergi), dan ternyata aku mendapat berkah karenanya.”” [11]

Al-Ma’mun berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang anak yang lebih berbakti kepada ayahnya daripada Al-Fadhl bin Yahya. Baktinya tersebut sampai pada suatu keadaan di mana Yahya (ayahnya) tidak pernah berwudhu kecuali dengan air hangat. Kala itu dia sedang di penjara, lalu para penjaga penjara melarang keduanya memasukkan kayu bakar di malam yang sangat dingin, maka ketika Yahya mulai tidur, Al-Fadhl mengisi air di botol, kemudian menghangatkan air tersebut dengan mendekatkannya ke api lampu. Dia terus berdiri memegang botol tersebut hingga pagi hari.”

Selain Al-Ma’mun menceritakan, bahwa para penjaga penjara mengetahui apa yang dilakukan oleh Al-Fadhl yang mendekatkan api lampu untuk menghangatkan air. Sehingga mereka melarang orang-orang yang ada di penjara untuk menyalakan lampu di malam berikutnya. Maka Al-Fadhl memenuhi botol dengan air, kemudian dia bawa ke tempat tidurnya, dan dia tempelkan pada perutnya hingga air itu menjadi hangat. [12]

Muhammad bin ‘Abdurrohman bin Abu Az-Zinad adalah seseorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Suatu kali ayahnya memanggil, “Wahai Muhammad.” Ternyata dia tidak menyahut hingga datang kepada ayahnya dalam keadaan kepala tertunduk lalu menyahutinya. Sang ayah kemudian menyuruhnya melakukan suatu keperluannya. Dia langsung menyanggupinya tanpa bertanya-tanya karena ta’zhim kepadanya, hingga dia bertanya kepada orang lain yang paham tentangnya. [13]

Dari Anas bin An-Nadhr Al-Asyja’i, dia berkata, “Pada suatu malam ibu Ibnu Mas’ud pernah meminta air minum kepadanya. Tatkala Ibnu Mas’ud datang membawakan air kepadanya, ternyata dia mendapati ibunya sudah tidur, maka dia tetap memegang air tersebut di dekat kepala ibunya hingga pagi hari.” [14]

Zainal Abidin adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya, hingga pada suatu saat dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan satu piring bersamanya.” Maka dia menjawab, “Aku khawatir tanganku mendahuluinya mengambil sesuatu yang telah dilihat matanya sehingga aku menjadi durhaka kepadanya.”

—Selesai Kutipan—

Sungguh betapa kita masih sangat jauh dalam bertauladan kepada para Salafush Sholeh, terutama dalam hal Birrul Walidain. Tapi, hendaknya kita terus berusaha untuk menjadi anak-anak yang sholeh, yang mengerti agama Islam dengan benar, sehingga Ilmu Islam kita tersebut bisa bermanfaat bagi kita untuk memperbaiki terus bakti kita kepada ayah dan ibu, aby dan ummy, papi dan mami kita hingga sempurna dan memperoleh Ridho Alloh ‘Azza wa Jalla. Jangan pernah menyerah dan malu untuk memperbaiki kesalahan kita. Semoga Alloh memberi Hidayah kepada kita semua dan semoga Alloh menjadikan kita orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua kita…Aamiin

Sumber: Diketik ulang dari buku “Sungguh Merugi Siapa Yang Mendapati Orang tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga” Penulis: Ghalib bin Sulaiman Al-Harbi, penerbit: Darul Haq, hal. 39-44 via http://www.pustakaukhuwahmalang.wordpress.com

————————————————-

kisah seorang ayah yang jarang shalat

Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.

Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.

Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:”Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya. Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya. Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, “Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?” Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu. Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah. Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku. Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah. Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar, lalu ia shalat maghrib di hadapan saya. Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya): “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45).

Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setelah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, “Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!

“Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh. Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat),”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).” Saya katakan kepadanya, “Biar kita ke masjid dekat rumah saja.” Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.

Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut. Dan Marwan selalu memandang saya.Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21).

Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, “Sudahlah wahai Abi!” Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, “Kamu jangan cemas.” Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.

Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.

Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan,”Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?” Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.” Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”

Sumber: www.ibnutaimiyah.com

kisah nyata akibat berbuat zina

Aku tidak tahu mengapa aku telah terenyuh setiap kali membaca kisah ini; kisah yang masih tetap kusimpan sejak lama dalam tumpukan kertas-kertasku yang berserakan.

Kisah yang terjadi sejak lama ini menggambarkan penderitaan hakiki yang dialami pelakunya, menjelaskan tentang akhir kisah yang sebenarnya tidak perlu diherankan jika demikian akhirnya.

Sungguh, kisah ini sangat berbekas, diliputi kesedihan dan kegalauan dari segala penjurunya. Dan sebesar kadar kesedihan itulah kadar pelajaran yang dapat diambil oleh siapa saja yang masih menjaga kehormatan yang sesungguhnya, bukan yang dibuat-buat.

Si pemilik kisah ini mengisahkan kisahnya sebagai berikut:

Sejak dua tahun yang lalu aku tinggal di sebuah rumah di mana kami bertetangga dengan seorang tetangga wanita yang sangat cantik dan rupawan. Hatiku begitu menggebu-gebu padanya hingga membuatku tidak sanggup untuk bersabar. Aku terus berusaha untuk masuk ke dalam hatinya dengan berbagai cara, namun aku tak kunjung sampai ke sana.

Hingga aku menemukan sebuah celah dengan janji pernikahan dengannya. Aku berhasil merebut hatinya dan ia pun membuka pintu hatinya. Bahkan lebih dari itu, di hari yang sama bahkan merebut kehormatannya. Dan tidak lama kemudian aku mengetahui bahwa sang gadis itu telah mengandung janinku. Itu membuatku berpikir: apakah aku harus memenuhi janjiku untuk menikahinya atau aku putuskan saja cintanya?

Tapi aku lebih memilih yang kedua. Aku meninggalkan rumah di mana ia biasa mengunjungiku. Dan setelah itu, aku tidak pernah tahu lagi kabar tentangnya sedikit pun…

Bertahun-tahun lamanya kejadian itu berlalu, dan di suatu hari, aku menerima sepucuk surat darinya. Di dalam surat itu, ia menuliskan antara lain:

 “Andai saja aku bermaksud untuk mengulang kembali masa yang telah lalu atau cinta lama, maka aku tidak akan pernah menuliskan sebaris pun bahkan satu huruf pun. Karena aku yakin bahwa janji seperti janjimu yang khianat dan cinta seperti cintamu yang palsu, sama sekali tidak layak membuatku bahagia sehingga aku perlu mengenangnya atau membuatku sedih sehingga aku harus mengulangnya kembali. Sesungguhnya engkau tahu, ketika engkau pergi meninggalkanku di dalam diriku ada api yang sedang menyala dan janin yang sedang bergerak, namun engkau sama sekali memerdulikannya.

Engkau lari meninggalkanku, agar engkau tak menanggung beban moral melihat kedurjanaan yang engkau lakukan, agar engkau tidak membebani dirimu untuk menghapus air mata yang engkau alirkan. Maka setelah itu semua, apakah aku mampu untuk menganggapmu sebagai seorang pria terhormat?!

Tidak…bahkan untuk menganggapmu sebagai seorang manusia saja aku tidak sanggup, karena tidak ada satu pun watak kebinatangan melainkan engkau kumpulkan dalam dirimu. Intinya engkau hanya memandangku sebagai jalan untuk memuaskan dirimu. Dan ketika engkau melintas di depanku untuk itu, engkau pun melakukannya. Andai bukan karena itu, ia tidak akan pernah mengetuk pintuku dan tidak melihat wajahku.

Engkau mengkhianatiku…sebab engkau telah menjanjikan sebuah pernikahan, namun engkau mengingkarinya dan pergi karena tidak mau menikahi seorang wanita jahat yang tak mempunyai nilai. Padahal kejahatan dan kehinaan itu tidak lain adalah perbuatan tangan dan kejahatanmu sendiri. Seandainya bukan karena engkau, aku tidak akan menjadi seorang wanita jahat dan hina. Aku telah berusaha menolakmu, namun engkau tetap berusaha hingga aku jatuh bagai seorang anak kecil di hadapan orang besar yang sangat kuat.

Engkau telah mencuri kehormatanku…hingga menjadi jiwa yang hina, yang hatinya akan selalu bersedih. Aku merasa betapa beratnya beban kehidupan dan betapa lambatnya kematian datang dalam kehidupanku. Yah, kenikmatan hidup apa lagi yang akan dirasakan oleh seorang wanita yang tidak bisa lagi menjadi seorang istri bagi seorang pria dan menjadi seorang ibu bagi seorang anak? Bahkan tidak mampu lagi untuk hidup dalam masyarakat manusia, kecuali dengan menundukkan kepala, memejamkan mata dan meletakkan tangan di dagunya. Tubuhnya gemetar karena trauma dengan gangguan orang-orang yang suka melecehkan.

Engkau merampas ketenanganku…karena akhirnya akibat peristiwa itu, aku terpaksa harus meninggalkan “istana” di mana dahulu aku menikmati semuanya dalam dekapan ayah dan bundaku. Aku harus meninggalkan semua kelapangan dan kehidupan yang menyenangkan itu menuju rumah yang kecil di sebuah lingkungan yang sangat terpencil. Tidak ada yang mengenalnya. Dan tidak ada yang sudi mengetuk pintunya. Di sana aku menghabiskan sisa-sisa kehidupanku yang kelam.

Engkau telah membunuh ayah dan ibuku…aku hanya tahu bahwa mereka berdua telah meninggal. Dan aku yakin mereka berdua meninggal tidak lain karena sedih telah kehilanganku dan putus asa untuk berjumpa denganku…

Engkau telah membunuhku…karena kehidupan pahit yang kuteguk dari gelas yang engkau sodorkan. Dan kesedihan panjang yang kualami karenamu benar-benar telah mencapai puncaknya dalam diri dan jiwaku. Kini, aku tergolek di atas ranjang kematian bagai seekor lalat yang terbakar, yang nafas demi nafasnya berangsur-angsur sirna.

Maka engkaulah si pendusta dan penipu, pencuri dan pembunuh. Dan aku yakin Allah tidak akan membiarkanmu tanpa mengambil apa yang menjadi hakku darimu.

Aku menulis surat ini padamu bukan untuk memperbaharui kembali janji itu. Aku menulis ini kepadamu bukan karena rindu, karena engkau jauh lebih hina bagiku untuk mendapatkan itu.

aku telah berada di sisi pintu alam kubur, tidak lama lagi mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh kehidupan dunia, yang baik dan buruknya, bahagia dan susahnya. Aku tidak lagi punya harapan tentang cinta. Tidak ada lagi kelapangan waktu untuk memperbaharui janji…

Aku menulis ini untukmu karena aku menyimpan sebuah titipan milikmu. Ia adalah anak gadismu. Maka jika Dzat yang telah menghilangkan rasa kasih dari hatimu itu masih menyisakan kasih seorang bapak dalam dirimu, maka segeralah temui ia dan ambillah ia ke sisimu, agar ia tidak merasakan kemelaratan seperti yang dirasakan ibunya sebelumnya…”

Benar-benar kalimat-kalimat yang sangat menyedihkan…

Sesungguhnya kisah seperti ini dan yang semisalnya adalah hasil dan akibat dari ketidakharmonian yang kita alami, sehingga akibatnya lahirlah problem seperti itu yang membutuhkan pemecahan dalam waktu yang sangat panjang…

Seorang pria berusaha menaklukkan seorang wanita, dan untuk itu ia menyiapkan segala sesuatunya: janji yang dusta, perkataan yang manis dan muslihat yang memikat. Hingga akhirnya, ketika ia telah berhasil mengelabui dan menaklukkannya lalu mengambil hal yang paling berharga yang ia miliki, pria itu pun menepiskan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal padanya untuk tidak bertemu kembali selamanya…

Saat itulah, sang wanita itu akan terduduk di sudut rumahnya untuk menangisi dan meratapi nasibnya, berurai air mata yang terus mengalir di pipinya, sembari menyandarkan kepalanya di atas tangan: tidak tahu hendak ke mana? Tak tahu apa yang akan dilalukaan? Dan bagaimana ia harus melewati hidupnya?

Ia berusaha melanjutkan hidupnya melalui jalan pernikahan, namun ia tidak akan menemukan orang yang sudi menikahinya, sebagai kaum pria akan menyebutnya sebagai wanita tak berharga!!

Wahai tuan-tuan yang terhormat…

Sang gadis itu harus membuka hatinya kepada orang-orang sebelum ia kemudian membukanya untuk sang suami, agar ia dapat hidup bersamanya dengan tenang dan bahagia, tidak terbayangi oleh kenangan masa lalu…

Jarang sekali seorang gadis yang memulainya hidupnya dengan petualangan cinta kemudian dapat menikmati sebuah cinta yang mulia lagi terhormat.

Sesungguhnya gadis yang kalian rendahkan dan hinakan itu…yang kalian mempermainkan diri dan jiwanya, dia itu tak lain adalah sosok yang kelak akan menjadi ibu bagi anak-anak kalian, tiang penopang rumah kalian, serta gudang penjagaan harga diri dan kehormatan kalian. Maka perhatikanlah bagaimana kehidupan kalian bersamanya esok, dan bagaimana masa depan anak-anak dan diri kalian ada di tangannya.

Di mana kalian akan menemukan istri-istri yang shalehah di masa datang kehidupan kalian jika kalian merusak para pemudi hari ini…

Dalam iklim apa anak-anak kalian akan hidup dan menghirup semerbak kehidupan yang suci, jika hari ini kalian telah semua udara dan memenuhinya dengan racun dan kotoran.

Kalian jangan heran jika setelah hari ini, kalian tidak mampu lagi mencari istri-istri yang shalehah dan terhormat yang dapat menjaga kehormatan harga diri kalian, yang menjaga kebahagian diri dan rumah kalian. Sebab itu semua adalah akibat kejahatan kalian terhadap diri kalian sendiri, dan buah dari apa yang ditanam oleh tangan-tangan kalian sendiri…

Dan andai kalian menjaga masa lalu kaum wanita itu, maka mereka akan menjaga masa kini dan masa depan kalian…Namun kalian telah merusak mereka. Kalian telah membunuh jiwa mereka, hingga kalian kehilangan mereka saat kalian justru membutuhkannya…

Sumber: Buku “Chicken Soup For Muslim”, Penerbit Shafa Publika, Hal.40-48

Artikel: www.KisahIslam.net

Sunday, March 8, 2015

kisah anak kelas 2 SD yang Rajin Shalat subuh berjamaah

Dia adalah seorang anak yang belajar di kelas 2 SD. Dengan taufiq dari Allah kemudian bimbingan ibunya, ia tidak pernah meninggalkan shalat subuh dengan berjamaah. Namun sayang sekali, jika ia pergi menunaikan shalat, ayahnya masih saja tidur.

Pada satu hari, ketika sedang belajar di salah satu jam pelajaran, sang guru memutuskan untuk menghukum semua murid yang ada di kelas karena suatu sebab. Ia kemudian memukul mereka satu per satu, hingga akhirnya ia sampai pada murid ini.

“Buka tanganmu!” ujarnya karena ingin memukulnya.

“Tidak, engkau tidak akan memukulku,” jawab anak itu.

Dengan marah, guru berkata lagi: “Apakah engkau tidak mendengarnya?! Buka tanganmu!!”

“Engkau ingin memukulku?” tanya anak itu.

“Iya,” jawab gurunya.

“Demi Allah, engkau tak akan mampu memukulku.”

“Apa?”

“Iya, demi Allah, engkau tidak akan mampu memukulku. Cobalah jika engkau mau,” ujar anak itu lagi.

Guru itu berdiri dengan penuh kebingungan pada perilaku murid itu: “Mengapa aku tidak bisa memukulmu?!”

“Apakah Bapak tidak pernah mendengarkan hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
‘Barang siapa yang mengerjakan shalat subuh secara berjamaah, maka ia akan berada dalam penjagaan Allah.’

Dan aku selalu mengerjakan shalat subuh berjamaah, karena itu aku akan selalu dalam penjagaan Allah. Lagi pula aku tidak melakukan dosa apapun sehingga Anda bisa menghukumku,” jelas anak tersebut.

Sang guru itu hanya bisa terpaku. Ia terpana penuh khusyu’ dan takjub dengan kecerdasan pikiran anak itu. Guru itu tidak punya pilihan selain menyampaikan hal itu kepada pihak kepala sekolah yang kemudian memanggil ayahnya untuk menyampaikan apresiasi karena telah mendidik anaknya dengan baik. Dan ketika sang ayah hadir, semua guru terkejut karena ternyata ia adalah orang yang tidak peduli dan tidak ada tanda-tanda keshalehan di wajahnya.

Semuanya benar-benar heran. Mereka bertanya: “Apakah benar Anda ayah dari anak ini?”

“Iya,” jawabnya.

“Apakah ini adalah ayahmu, Nak?” tanya mereka pada anak itu.

“Benar, tapi ia tidak pernah shalat bersama kami!” jawabnya.

Pada saat itulah, salah seorang guru berdiri menyampaikan kisah anak itu di dalam kelas. Dan kisah itu kemudian menjadi sebab sang ayah mendapatkan hidayah dari Allah.

Sumber: Buku “Chicken Soup For Muslim”, Penerbit Shafa Publika

Artikel: www.KisahIslam.net

mengobati penyakit dengan sedekah

Cerita dari saudara Hamid Husain, di salah satu keluarga Arab Saudi yang tinggal di pinggiran kota Riyadh, karena sang istri menderita kanker darah stadium 4, maka keluarga ini merekrut seorang TKW asal Indonesia untuk mendampingi dan merawat sang istri.

Seminggu TKW ikut keluarga Saudi ini, sang isteri yang menderita kanker darah ini curiga pada kepadanya karena sering bolak balik ke kamar mandi dan berlama-lama, lalu suatu pagi ia menanyai sang pembantu kenapa sering ke kamar mandi dan berlama-lama tidak wajar. Sang TKW menjelaskan bahwa ia baru saja 20 hari yang lalu melahirkan anak, karena sangat butuh uang iapun mendaftar menjadi TKW dan berangkatlah ke Saudi dengan biaya pinjam kiri kanan. Karena kedua susunya selalu penuh ASI, maka dia yang masih belum pulih dan masih diselimuti rasa rindu sering-sering ke kamar mandi mengeluarkan ASI sambil membayangkan bayinya yang ditinggal di Indonesia.

Sang majikan perempuan ini pun iba, dan segera bookingkan pesawat. Keesokan harinya ia memanggil sang TKW sekaligus menyodorkan 2 amplop berisi ticket pesawat, paspor dan gaji selama 24 bulan (sesuai perjanjian kerja kontrak 2 tahun). Sang majikan, "Saya tidak tega, saya dapat merasakan perasaan seorang ibu, pulanglah ke kampungmu, jika suatu hari kamu ingin kembali silakan, dengan senang hati, ini no telepon kami, silahkan hubungi kami jika perlu".

Sang pembantu sangat gembira dan pulang ke tanah air.
Keadaan sang majikan tiap hari terus membaik meskipun tanpa pembantu. Dia ke dokter langganannya, periksa, dokter kaget, seolah tidak percaya, untuk meyakinkan, dokter mengulangi beberapa kali CT-scan, indoskopi, periksa darah berulang ulang. Hasilnya tetap menunjukkan 100% sembuh total.

Ia bersih dari kanker. Ia bertanya, bagaimana ini bisa sembuh? Obat apa yang diminum? Dia hanya berkata, "Pesan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam: Obatilah yang sakit dengan perbanyak bersedekah (daawuu mardhaakum bisshadaqah)"..[Copas dr teman]

[Copas dari ustadz Abdullah Sholeh Hadrami]