Monday, March 9, 2015

berbuat baik kepada orangtua kunci surga

Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma pernah berkata kepada seorang laki-laki, “Apakah kamu takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” Laki-laki itu menjawab, “Tentu.” Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘anhuma berkata, “Berbaktilah pada ibumu. Demi Alloh, sekiranya kamu lemah lembut dalam berbicara kepadanya dan memberinya makan, niscaya kamu benar-benar akan masuk surga, selama kamu menjauhi dosa-dosa besar.” [1]

Muhammad bin Al-Munkadir Rohimahullohpernah meletakkan pipinya di tanah, kemudian berkata kepada ibunya, “Ibuku, berdiri dan letakkanlah kaki ibu di atas pipiku.” [2]

Ibnu Al-Munkadir Rohimahulloh juga pernah berkata, “Saudaraku, ‘Umar menghabiskan malamnya dengan sholat, sedangkan aku menghabiskan malamku dengan mengelus-elus kaki ibuku, dan aku tidak ingin malamku itu diganti dengan malam saudaraku.” [3]

Dari Muhammad bin Sirin Rohimahulloh, dia berkata, “Pada masa ‘Utsman bin Affan, harga pohon kurma mencapai seribu dirham. Usamah menuju suatu pohon kurma, lalu menggigitnya dan mengeluarkan daging pohon kurma yang paling lunak, kemudian menghidangkannya untuk ibunya. Orang-orang berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu melakukan hal ini, sementara kamu tahu bahwa harga pohon kurma sampai seribu dirham?” Dia menjawab, “Karena ibuku memintanya, dan tidaklah beliau meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu, melainkan aku pasti akan memberikan itu kepadanya.”” [4]

Dari Abu Burdah, dia berkata, “Aku pernah mendengar ayahku bercerita, bahwa dia pernah melihat Ibnu ‘Umar dan seorang laki-laki dari Yaman yang sedang menggendong ibunya melakukan thowaf di Baitulloh, laki-laki itu berkata,

Sesungguhnya aku adalah untanya yang ditundukkan

Jika ia mengejutkan sanggurdinya, niscaya aku tidak akan terkejut

Kemudian dia berkata, “Wahai Ibnu ‘Umar, apakah kamu berpendapat bahwa aku telah membalas ibuku?” Ibnu ‘Umar menjawab, “Tidak, meskipun hanya sehela nafas (keletihan)nya..” Kemudian Ibnu ‘Umar berthowaf hingga sampai maqom, lalu sholat dua roka’at, kemudian berkata, “Wahai Ibnu Abu Musa, sesungguhnya setiap dua roka’at dapat menghapus dosa-dosa yang ada di depan kedua orang tua.” [5]

Dari Abu Hazim, bahwa Abu Murroh, mantan sahaya Ummu Hani’, putri Abu Tholib, telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah naik kendaraan bersama Abu HuroirohRodhiyallohu ‘anhu ke kampungnya di al-Aqiq. Tatkala dia sampai di daerahnya, maka dia berteriak kencang, “Semoga keselamatan, Rahmat Alloh dan KeberkahanNya terlimpahkan kepadamu wahai ibuku!” Kemudian ibunya menyahut, “Semoga keselamatan, Rahmat Alloh dan KeberkahanNya juga terlimpahkan kepadamu.” Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘anhuberkata kembali, “Semoga Alloh merahmatimu sebagaimana engkau telah mendidikku tatkala aku masih kecil.” Ibunya menimpali, “Demikian juga engkau wahai anakk. Semoga Alloh membalasmu dengan kebaikan dan meridhoimu sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku di kala aku telah tua.” [6]

Abu Bakar ‘Ayyasy berkata, “Aku pernah duduk bersama Manshur di rumahnya. Kala itu ibunya yang keras berteriak kepadanya seraya mengatakan, “Wahai Manshur, Ibnu Hubairoh menginginkanmu menjadi qodhi, kenapa kamu menolaknya?” Mendengar hardikan ibunya Manshur hanya menunduk tanpa melihat kepada ibunya.” [7]

Haiwah bin Syuroih, salah seorang imam kaum Muslimin, pernah suatu hari duduk dihalaqohnya untuk mengajarkan ilmu kepada orang-orang. Tiba-tiba ibunya berkata kepadanya, “Bangkitlah wahai Haiwah, taburkanlah gandum untuk ayam kita.” Maka dia pun bangkit dan meninggalkan taklimnya. [8]

Dari Ibnu ‘Aun, bahwa pada suatu saat ibunya memanggilnya, maka dia pun menjawab panggilan sang ibu. Ternyata suaranya melebihi suara ibunya, karena itu dia pun memerdekakan dua budak.” [9]

Pada suatu hari Ibnu Al-Hasan At-Tamimi Al-Bashri hendak membunuh seekor kalajengking. Kalajengking tersebut masuk ke dalam sarangnya. Maka dia memasukkan jari-jarinya ke lubang sarang tersebut, sehingga kalajengking itu menyengatnya. Lalu dia berkata kepada kalajengking itu, “Aku khawatir kamu keluar lalu menghampiri ibuku untuk menyengatnya.” [10]

‘Abdulloh bin Ja’far Al-Marwazi berkata, “Aku pernah mendengar Bundar mengatakan, “Suatu ketika aku hendak pergi untuk suatu perjalanan, namun ibuku melarangku, maka aku pun menaatinya (untuk tidak pergi), dan ternyata aku mendapat berkah karenanya.”” [11]

Al-Ma’mun berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang anak yang lebih berbakti kepada ayahnya daripada Al-Fadhl bin Yahya. Baktinya tersebut sampai pada suatu keadaan di mana Yahya (ayahnya) tidak pernah berwudhu kecuali dengan air hangat. Kala itu dia sedang di penjara, lalu para penjaga penjara melarang keduanya memasukkan kayu bakar di malam yang sangat dingin, maka ketika Yahya mulai tidur, Al-Fadhl mengisi air di botol, kemudian menghangatkan air tersebut dengan mendekatkannya ke api lampu. Dia terus berdiri memegang botol tersebut hingga pagi hari.”

Selain Al-Ma’mun menceritakan, bahwa para penjaga penjara mengetahui apa yang dilakukan oleh Al-Fadhl yang mendekatkan api lampu untuk menghangatkan air. Sehingga mereka melarang orang-orang yang ada di penjara untuk menyalakan lampu di malam berikutnya. Maka Al-Fadhl memenuhi botol dengan air, kemudian dia bawa ke tempat tidurnya, dan dia tempelkan pada perutnya hingga air itu menjadi hangat. [12]

Muhammad bin ‘Abdurrohman bin Abu Az-Zinad adalah seseorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Suatu kali ayahnya memanggil, “Wahai Muhammad.” Ternyata dia tidak menyahut hingga datang kepada ayahnya dalam keadaan kepala tertunduk lalu menyahutinya. Sang ayah kemudian menyuruhnya melakukan suatu keperluannya. Dia langsung menyanggupinya tanpa bertanya-tanya karena ta’zhim kepadanya, hingga dia bertanya kepada orang lain yang paham tentangnya. [13]

Dari Anas bin An-Nadhr Al-Asyja’i, dia berkata, “Pada suatu malam ibu Ibnu Mas’ud pernah meminta air minum kepadanya. Tatkala Ibnu Mas’ud datang membawakan air kepadanya, ternyata dia mendapati ibunya sudah tidur, maka dia tetap memegang air tersebut di dekat kepala ibunya hingga pagi hari.” [14]

Zainal Abidin adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya, hingga pada suatu saat dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan satu piring bersamanya.” Maka dia menjawab, “Aku khawatir tanganku mendahuluinya mengambil sesuatu yang telah dilihat matanya sehingga aku menjadi durhaka kepadanya.”

—Selesai Kutipan—

Sungguh betapa kita masih sangat jauh dalam bertauladan kepada para Salafush Sholeh, terutama dalam hal Birrul Walidain. Tapi, hendaknya kita terus berusaha untuk menjadi anak-anak yang sholeh, yang mengerti agama Islam dengan benar, sehingga Ilmu Islam kita tersebut bisa bermanfaat bagi kita untuk memperbaiki terus bakti kita kepada ayah dan ibu, aby dan ummy, papi dan mami kita hingga sempurna dan memperoleh Ridho Alloh ‘Azza wa Jalla. Jangan pernah menyerah dan malu untuk memperbaiki kesalahan kita. Semoga Alloh memberi Hidayah kepada kita semua dan semoga Alloh menjadikan kita orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua kita…Aamiin

Sumber: Diketik ulang dari buku “Sungguh Merugi Siapa Yang Mendapati Orang tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga” Penulis: Ghalib bin Sulaiman Al-Harbi, penerbit: Darul Haq, hal. 39-44 via http://www.pustakaukhuwahmalang.wordpress.com

————————————————-

No comments:

Post a Comment